BAB I
PENDAHULUAN
Secara
naluriah, manusia selalu berusaha menyandarkan hasrat kehidupannya kepada sesuatu
yang dianggap memiliki kekuatan absolut. Hal ini bisa terlihat dalam rentangan sejarah
kehidupan mamnusia, baik pada zaman klasik sampai kepada kondisi kekinian. Pada zaman klasik, manusia
banyak menyandarkan keyakinannya kepada benda-benda yang dinggap sakti, keramat
dan lain sebagainya.[1] Pada zaman modern,
dikarenakan rasionalitas manusia sudah mengalami kemajuan, kepercayaan seperti
ini sudah tidak begitu kental berada ditengah-tengah masyarakat. Kondisi ini
memberikan gambaran bahwa tanpa adanya ajaran agama langit yang berkembang
dalam suatu komunitas masyarakat, mereka akan berusaha membentuk sebuah
keyakinan berdasarkan kemampuan, pengalaman dan ilmu yang mereka miliki.
Dalam Islam, potensi kebertuhanan
manusia ini difasilitasi dan dibimbing agar menjadi suatu keyakinan yang benar
dan lurus. Bimbingan terhadap manusia ini langsung berasal dari Allah sebagai
zat yang Maha Tinggi, maha Kuasa, Maha Mengetahui. Namun bimbingan itu bukan dalam bentuk Allah yang
membimbing manusia, tetapi melalui risalah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul
Allah Swt.
Para Nabi dan rasul dalam mengemban
amanah dakwah mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengabdi dan
menyembah Allah , sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzariyaat : 56 :
Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS 51 : 56)
Tujuan ini hidup manusia sebagaimana
yang dijelaskan dalam surat diatas, mendorong manusia untuk mengkaji berbagai
tingkah laku dan respon manusia itu sendiri dalam menjalankan agama yang telah
diajarkan, kemudian memanage dirinya agar mampu menjadi hamba Allah yang
istiqamah dalam ajaran Islam. Respon tersebut akan melahirkan suasana kejiwaan
tertentu pula bagi seorang ummat Islam. Latar belakang inilah yang akan
melahirkan bahasan tentang psikologi Islam.
Dalam rangka meningkatkan kualitas
kedekatan seorang hamba kepada sang khâliq, sehingga ia menyadari dan
merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan, seorang hamba akan merasakan sebuah
nuansa baru dalam memandang kehidupan. Dalam rentangan sejarah Islam, begitu
banyak orang-orang yang menaruh pehatian tinggi terhadap kajian-kajian mengenai
teori dan peraktik dalam mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah.
Orang-orang tersebut di dalam Islam dikenal sebagai para sufi, dan pada
gilirannya melahirkan disiplin ilmu baru dalam Islam yaitu Ilmu Tasauf. Kondisi
jiwa manusia yang memandang bahwa kehidupan dunia hanyalah media dalam meraih
kehidupan yang hakiki, kemudian memanfaatkan fasilitas keduniaan itu dengan
efektif dan efesien dalam meraih kebahagiaan hidup baik dunia maupun kahirat, hal
ini juga melahirkan cabang ilmu Psikologi Islam yang lain, yaitu Psikologi
Tasauf.
Berangkat dari bahasan diatas, pada
makalah ini akan coba di bahas sebuah tema :Psikologi Tasawuf dan
Pengembangan Kekuatan Spiritual Keagamaan dan ke-Tuhanan Manusia dalam
Perspektif Psikologi Agama Islam.
Mengingat begitu luasnya tema ini,
maka penulis akan membatasi masalah yang akan dibicarakan pada makalah ini.
Adapun batasan tersebut adalah :
1.
Psikologi Tasawuf; Pengertian dan
objek kajiannya
2.
Eksistensi Psikologi Tasawuf dalam
Psikologi Agama Islam
3.
Pengembangan kekuatan spiritual
keagamaan dalam perspektif Psikologi Agama Islam
4.
Ke-Tuhanan Manusia dalam perspektif
Psikologi Agama Islam
[1]Dalam kajian antropologi Manusia, ada beberapa kepercayaan sebagai
bentuk pelampiasan hasrat bertuhannya manusia.
Kepercayaan tersebut dikelompokkan pada beberapa kelompok yaitu : (1) Dinamisme,
yaitu agama pada masyarakat primitif yang percaya keapada kekuatan (magic)
yang terdapat pada benda-benda yang di anggap keramat, (2) Animisme, yaitu
kepercayaan kepada roh-roh, (3) politeisme, yaitu kepercayaan kepada dewa-dewa.
Ketiga kelompok agama ini digolongkan kepada agama yang dianut oleh masyarakat
primitif. Lihat Junizar Suratman, Spiritualitas dan Radikalisme dala
Perspektif Filasafat Agama, ( Padang : Puslit Press, 2011), h. 12-13
