MOTTO :

junaidi678.blogspot.com :
TIADA HARI TANPA INOVASI
Tampilkan postingan dengan label Psikologi agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi agama Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

Psikologi Tasawuf dan Pengembangan Kekuatan Spiritual Keagamaan dan ke-Tuhanan Manusia dalam Perspektif Psikologi Agama Islam

BAB I
PENDAHULUAN

Secara naluriah, manusia selalu berusaha menyandarkan hasrat kehidupannya kepada sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan absolut. Hal ini bisa terlihat dalam rentangan sejarah kehidupan mamnusia, baik pada zaman klasik sampai kepada kondisi kekinian. Pada zaman klasik, manusia banyak menyandarkan keyakinannya kepada benda-benda yang dinggap sakti, keramat dan lain sebagainya.[1] Pada zaman modern, dikarenakan rasionalitas manusia sudah mengalami kemajuan, kepercayaan seperti ini sudah tidak begitu kental berada ditengah-tengah masyarakat. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa tanpa adanya ajaran agama langit yang berkembang dalam suatu komunitas masyarakat, mereka akan berusaha membentuk sebuah keyakinan berdasarkan kemampuan, pengalaman dan ilmu yang mereka miliki.
Dalam Islam, potensi kebertuhanan manusia ini difasilitasi dan dibimbing agar menjadi suatu keyakinan yang benar dan lurus. Bimbingan terhadap manusia ini langsung berasal dari Allah sebagai zat yang Maha Tinggi, maha Kuasa, Maha Mengetahui. Namun  bimbingan itu bukan dalam bentuk Allah yang membimbing manusia, tetapi melalui risalah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul Allah Swt.
Para Nabi dan rasul dalam mengemban amanah dakwah mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengabdi dan menyembah Allah , sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzariyaat : 56  :
Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS 51 : 56)
Tujuan ini hidup manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam surat diatas, mendorong manusia untuk mengkaji berbagai tingkah laku dan respon manusia itu sendiri dalam menjalankan agama yang telah diajarkan, kemudian memanage dirinya agar mampu menjadi hamba Allah yang istiqamah dalam ajaran Islam. Respon tersebut akan melahirkan suasana kejiwaan tertentu pula bagi seorang ummat Islam. Latar belakang inilah yang akan melahirkan bahasan tentang psikologi Islam.
Dalam rangka meningkatkan kualitas kedekatan seorang hamba kepada sang khâliq, sehingga ia menyadari dan merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan, seorang hamba akan merasakan sebuah nuansa baru dalam memandang kehidupan. Dalam rentangan sejarah Islam, begitu banyak orang-orang yang menaruh pehatian tinggi terhadap kajian-kajian mengenai teori dan peraktik dalam mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah. Orang-orang tersebut di dalam Islam dikenal sebagai para sufi, dan pada gilirannya melahirkan disiplin ilmu baru dalam Islam yaitu Ilmu Tasauf. Kondisi jiwa manusia yang memandang bahwa kehidupan dunia hanyalah media dalam meraih kehidupan yang hakiki, kemudian memanfaatkan fasilitas keduniaan itu dengan efektif dan efesien dalam meraih kebahagiaan hidup baik dunia maupun kahirat, hal ini juga melahirkan cabang ilmu Psikologi Islam yang lain, yaitu Psikologi Tasauf.
Berangkat dari bahasan diatas, pada makalah ini akan coba di bahas sebuah tema :Psikologi Tasawuf dan Pengembangan Kekuatan Spiritual Keagamaan dan ke-Tuhanan Manusia dalam Perspektif Psikologi Agama Islam.
Mengingat begitu luasnya tema ini, maka penulis akan membatasi masalah yang akan dibicarakan pada makalah ini. Adapun batasan tersebut adalah :
1.      Psikologi Tasawuf; Pengertian dan objek kajiannya
2.      Eksistensi Psikologi Tasawuf dalam Psikologi Agama Islam
3.      Pengembangan kekuatan spiritual keagamaan dalam perspektif Psikologi Agama Islam
4.      Ke-Tuhanan Manusia dalam perspektif Psikologi Agama Islam





[1]Dalam kajian antropologi Manusia, ada beberapa kepercayaan sebagai bentuk pelampiasan hasrat bertuhannya manusia.  Kepercayaan tersebut dikelompokkan pada beberapa kelompok yaitu : (1) Dinamisme, yaitu agama pada masyarakat primitif yang percaya keapada kekuatan (magic) yang terdapat pada benda-benda yang di anggap keramat, (2) Animisme, yaitu kepercayaan kepada roh-roh, (3) politeisme, yaitu kepercayaan kepada dewa-dewa. Ketiga kelompok agama ini digolongkan kepada agama yang dianut oleh masyarakat primitif. Lihat Junizar Suratman, Spiritualitas dan Radikalisme dala Perspektif Filasafat Agama, ( Padang : Puslit Press, 2011), h. 12-13